ada hal berbeda di hari ini
rabu, 9 April 2014. memang bukan hari yang biasa menurut pandanganku. kenapa, karena dihari inilah dimana para pemimpin kabupaten, provinsi, hingga RI di pilih. bukan apa dan kenapa hari ini berbeda, melainkan didalam sebuah kartu suara itupun terdapat nama ISNAFINGAH,S.Pd. mungkin sedikit egois ketika aku mencoblos nama itu untuk mendapatkan suara yang bayak agar menjadi salah satu pemimpin daerah yang duduk di DPR tingkat Daerah.
kenapa egois, karena tidak secara sengaja aku mendukung nama itu untuk bekerja lebih keras dan menghabiskan waktu untuk rakyat, yang seharusnya nama itu tetap dirumah untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik tapi karena sebuah amanah beliau harus bekerja lebih giat. permainan politik untuk beberapa hari ini sangatlah terlihat dengan jelas, dengan adanya serangan fajar dan permainan para normal. meskipun aku tidak sepenuhnya percaya akan hal itu namun itulah kehidupan harus tetap memahami tradisi dan budaya. agak sedikit kecewa ketika sebuah suara di beli dengan beberapa rupiah. menangis, kecewa, sedih itulah yang aku rasakan. mau dibawa kemana sebuah negara ini jika sebelum dia menjadi wakil rakyat telah menanamkan hal tersebut. entah siapa yang patut disalahkan tapi patut untuk dihilangkan. dimulai dari diri sendiri utnuk menghapus budaya tersebut. kembali merenungi dan merasakan apa yang terjadi pagi ini, kecurangan itupun kembali terjadi. saya tidak mau berbicara masalah partai, cukup di tebak saja partai apa yang melakukan sebuah kecurangan ini, yang katanya islam tapi tetap saja ketika kekuasaan itu ingin didapatkan semua cara dihalalkan tidak lagi mandang agama menjadi landasan dan dasar. semoga kelak budaya ini mulai terkikis habis dan para wakil rakyapun dapat bekerja maksimal dan optimal tanpa mengharapkan sebuah kekuasaan, jabatan dan uang.
kenapa egois, karena tidak secara sengaja aku mendukung nama itu untuk bekerja lebih keras dan menghabiskan waktu untuk rakyat, yang seharusnya nama itu tetap dirumah untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik tapi karena sebuah amanah beliau harus bekerja lebih giat. permainan politik untuk beberapa hari ini sangatlah terlihat dengan jelas, dengan adanya serangan fajar dan permainan para normal. meskipun aku tidak sepenuhnya percaya akan hal itu namun itulah kehidupan harus tetap memahami tradisi dan budaya. agak sedikit kecewa ketika sebuah suara di beli dengan beberapa rupiah. menangis, kecewa, sedih itulah yang aku rasakan. mau dibawa kemana sebuah negara ini jika sebelum dia menjadi wakil rakyat telah menanamkan hal tersebut. entah siapa yang patut disalahkan tapi patut untuk dihilangkan. dimulai dari diri sendiri utnuk menghapus budaya tersebut. kembali merenungi dan merasakan apa yang terjadi pagi ini, kecurangan itupun kembali terjadi. saya tidak mau berbicara masalah partai, cukup di tebak saja partai apa yang melakukan sebuah kecurangan ini, yang katanya islam tapi tetap saja ketika kekuasaan itu ingin didapatkan semua cara dihalalkan tidak lagi mandang agama menjadi landasan dan dasar. semoga kelak budaya ini mulai terkikis habis dan para wakil rakyapun dapat bekerja maksimal dan optimal tanpa mengharapkan sebuah kekuasaan, jabatan dan uang.
jika difikir kembali dan dihitung-hitung pengeluaran para calon untuk mendapatkan sebuah amanah itu tidak sedikit bahkan jika dihitung dengan gaji yang akan didapatkan ketika sudah menjadi wakil rakyat akan sangat sedikit. berarti otomatis mereka bekerja tidak sepenuh hati karena rakyat tapi bekerja untuk mengembalikan modal mereka terlebih dahulu yang dipakai ketika dia kampanye. sungguh ironis, kalo aku sih dari pada buang-buang uang untuk hal-hal yang tidak mendapatkan berkah alangkah baiknya kita kampanye dengan hati nurani. itulah sebuah permainan politik, politik yang begitu keras tapi perlu dipelajari dan pemahami, karena politik itu indah. indah untuk dibuka dalamnya agar kita tidak semena-mena dalam mengkritik sebuah politik itu. sangat sedih dan kecewa ketika sebelum pemilu itu mereka berkata mendukung dan akan mencoblosnya tapi pada kenyataannya tidak, sungguh bermuka dua, tapi itulah yang terjadi. maka berhati-hatilah untuk perrcaya kepada orang. boleh sih untuk percaya tapi jangan mudah percaya itulah yang aku ambil makna dari hari ini.
kemenangan dan kekalahan telah nyata didepan mata, apapun hasilnya tetap bersikap biasa saja dan tidak menjadi manusia yang sombong akan kekuasaan dan jabatan (jika menang) ataupun jajngan frustasi yang mengakibatkan terganggunya kejiwaan (jika kalah). sangatlah malu pada diri sendiri jika menjadi orang yang merugi, maka jika suka, sukalah sewajarnya dan jika tidak suka tidak sukalah sewajarnya. karena apapun yang berlebihan tidak baik dan membuat kita akan bergerak diluar batas dan kemampuan kita.
sebenarnya aku mengenal yang namanya politik ya di kampus pendidikan ini, awalnya politik ini berjalan datar-datar saja tapi sebenarnya sangat kejam. semua pelajaran yang aku dapatkan ketika aku belajar politik kampus pun aku terapkan didunia politik yang sebenarnya, sungguh sangat berbeda, dan aku kembali berfikir benar juga ketika kita berani masuk kedalam sebuah politik jangan sekali-kali kita memakai hati karena pasti akan hacur lebur hati ini. bagiku itulah tantangan, tantangan yang menarik untuk dimasuki dan dipahami bagaimana mereka ketika didalamnya.
tetap berharap, semoga mereka yang kelak menjadi wakil rakyat benar-benar bisa amanah dan tidak memakan uang rakyat dengan kurang tepat. dan apapun yang terjadi nama itu (isnafingah) tetap menjadi umi yang hebat dan luar biasa :*

Komentar
Posting Komentar